SANGATTA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dr Bahrani Hasanal beberkan beberapa penyebab utama yang menyebabkan seseorang terinfeksi tuberkulosis (TBC).

Yakni bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis, selain itu ada juga beberapa faktor risiko uang meningkatkan peluang tertular bakteri penyebab penyakit ini.

Diantaranya penderita diabetes, penyakit ginjal stadium akhir atau kanker tertentu, malnutrisi, perokok, pengkonsumsi alkohol dengan jangan waktu yang lama.

“Penderita HIV itu juga bisa, kenapa? Karena sistem kekebalan tubuhnya kan rendah, nah itu yang menjadi pemicu dia mudah terserang, apalagi ini kan kuman,” ucapnya.

Selain itu, obat-obatan yang menekan sistem kekebalan juga dapat membuat orang berisiko terkena penyakit TBC aktif, termasuk obat-obatan yang membantu mencegah penolakan transplantasi organ.

Bepergian ke daerah dengan tingkat TBC yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko tertular infeksi bakteri ini.

“Proses penularannya itu melalui udara, jadi saat mereka bersin itu atau batuk, nah dengan mudah itu masuk ke dalam tubuhnya kita, karena kan kita hirup udara sekitar dia,” terangnya.

Mantan Direktur RSUD Kudungga ini juga menjelaskan seseorang penderita TBC dapat menularkan bakteri melalui bersin, batuk, berbicara, dan saat bernyanyi.

Orang dengan sistem kekebalan yang berfungsi dengan baik mungkin tidak mengalami gejala TBC, bahkan jika mereka telah tertular bakteri tersebut, dikenal sebagai infeksi TBC Laten atau tidak aktif.

“Nah itu ada tahapannya, infeksi primer ketika bakteri masuk melalui hidung dan mulut yang menghirup udara dengan kandungan bakteri penyebab tuberkulosis,” jelasnya.

Bakteri ini bisa mencapai paru-paru, lalu kemudian memperbanyak diri. Beruntung jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat maka bakteri dapat dihancurkan untuk menahan perkembangan infeksinya.

Berbeda dengan infeksi aktif, terjadi ketika sistem imut tidak kuat atau lemah melawan serangan bakteri TB. Alhasil, bakteri akan lebih bebas memperbanyak diri dan menyerang sel-sel sehat di paru-paru.

“Setelah terinfeksi, si penderita tadi harus menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat TBC secara teratur selama 6-12 bulan,” paparnya.

Bahrani juga menjelaskan pengobatan TBC memiliki tujuan untuk mengurangi jumlah bakteri secara perlahan untuk meminimalisir risiko penularan.

Adapun cara mencegah tuberkulosis, Bahrani membeberkan bahwa faktanya, 10 persen masyarakat Indonesia memiliki bakteri TBC.

Namun, apakah infeksi laten atau aktif tergantung pada kondisi penderitanya. Jika mereka memiliki sistem imun yang baik maka Penyakit ini bisa sembuh bahkan sebelum gejala tersebut muncul.

“Maka dari itu, pencegahan utama supaya tidak terjangkit TBC ini kita harus menjaga pola hidup, makan cukup, tidur cukup dan berhenti merokok,” imbuhnya.

Jika Anda sudah terinfeksi, selain menjalani pengobatan, sebaiknya melakukan cara pencegahan TBC terbaik agar tidak terjadi penyebaran bakteri tersebut dari orang yang sakit ke orang sehat.

Untuk pencegahan, Bahrani mengimbau masyarakat yang memiliki anak untuk tidak melewatkan vaksin BCG atau Bacillus Calmette Guérin untuk mencegah TBC.

“Selain untuk bayi dan anak-anak, vaksin ini juga bisa diberikan pada orang dewasa berusia 16-35 tahun, terutama untuk mereka yang berisiko tinggi terpapar TBC di tempat kerja,” tandasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *