SANGATTA – Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini memang tengah tinggi.

Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi salah satu kabupaten/kota yang menduduki angka penularan DBD yang tinggi dan masuk zona merah.

“Ada 174 kasus dan satu yang meninggal pada pekan lalu, anak-anak,” ucap Kasi Pengendalian Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Kutim, Muhammad Yusuf.

Belakangan banyak warga Kutim yang meminta pelaksanaan fogging di area rumah mereka. Untuk mencegah penularan DBD.

Yusuf menjelaskan, fogging pengasapan dengan menyemburkan racun pembunuh nyamuk dewasa atau biasa disebut Insektisida.

“Fogging biasanya dilakukan di beberapa pemukiman dengan alasan untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti,” paparnya.

Tiap ada penambahan satu kasus DBD yang berdasarkan laporan rumah sakit, maka tim fogging focus ini akan turun ke lokasi untuk melakukan pemberantasan dengan interval tiap satu pekan.

Kendati demikian, Yusuf mengaku ingin mengubah mindset masyarakat, sebab fogging hanya memberikan rasa aman yang semu.

“Begitu di semprot, sore itu tidak ada nyamuk, tetapi besoknya jentik yang tidak mati akan kembali menjadi nyamuk,” imbuhnya.

Risiko racun dari fogging sendiri efeknya tidak hanya bagi nyamuk, namun seluruh makhluk hidup yang ada disekitaran lokasi penyemprotan.

Maka dari itu, langkah yang paling aman yakni dengan memberantas jentik dengan abatesasi (pembunuh jentik) yang dituang di tempat penampungan air.

“Kalau pola seperti itu yang kita terapkan maka InsyaAllah kita akan terbebas dari DBD,” tandasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *