SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terkenal akan lahan sawahnya yang luas, saat ini kecamatan dengan lahan terluas ada di Kaubun.

Tiap musim panen tentu akan dibutuhkan mesin combine atau mesin panen padi yang berfungsi untuk membersihkan atau memisah beras dan gabah.

Selain memotong combine dapat merontokkan padi secara langsung serta mengarungkan padi dalam satu proses sekaligus.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kutim, Dyah Ratnaningrum mengatakan pihaknya memiliki brigade yang mengelola alat-alat mesin pertanian yang berat.

“Combine atau mesin panen padi ini tidak diberikan ke kelompok tani, jadi kami yang menyimpan dan merawatnya,” ujarnya.

Sebab, untuk satu mesin saja di hargai kurang lebih hampir Rp 500 juta. Apabila terjadi kerusakan maka biaya perbaikan juga sangat besar.

Beruntung jika masih bisa diperbaiki, namun apabila mesin tersebut rusak, maka akan banyak kerugian. Oleh karenanya, hingga saat ini masih dikelola Dipertan.

“Makanya kalau kelompok tani memerlukan, bersurat ke kami, nanti kami yang akan mengantar atau mereka yang menjemput,” terangnya.

Dyah menerangkan, combine atau mesin panen padi yang dimiliki oleh Dispertan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).

Dan belum pernah menganggarkan selama dirinya menjabat sebagai Kepala Dispertan Kutim, baik di APBD murni maupun APBD perubahan 2022.(adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *